Internet2 dan Fast TCP berpacu memikat hati dunia.

Los Angeles – Tiga puluh lima tahun lalu, jaringan pintar ini belum ada. Kini hampir tak ada orang di dunia yang tidak tahu internet – paling tidak pernah mendengar kata yang cepat sekali populer ini. Semua pencapaian yang luar biasa cepat dan memikat.

Pada 2 September 1969, dua orang peneliti komputer – Stephen Crocker dan Vinton Cerf – di bawah supervisi Profesor Len Kleinrock, di sebuah laboratorium di kampus UCLA, Amerika Serikat, berhasil menghubungkan dua buah komputer bulky dengan menggunakan kabel berwarna abu-abu sepanjang 4,5 meter, menguji cara baru pertukaran data dalam sebuah jaringan, yang kemudian menjadi embrio lahirnya internet.

Seperti yang kita saksikan, kecepatan dan keluasan akses internet begitu cepatnya berkembang, ditambah lagi dengan perkawinan fenomenalnya dengan jaringan seluler yang membuat jaringan pintar ini benar-benar berada dalam genggaman.

Akses internet supercepat dan superluas menjadi opbsesi para ilmuwan internet dewasa ini. Yang saat ini sedang dikembangkan adalah Internet2 dan Fast TCP.

Dikembangkannya jaringan supercepat yang dinamakan Internet2 makin mengukuhkan revolusi internet makin tak terhentikan. Internet2, dengan kecepatan 100 kali dibanding layanan berpita lebar rumahan, dewasa ini sudah bisa dinikmati secara terbatas di sejumlah universitas, perusahaan, dan lembaga.

Namun, para ilmuwan – seperti ditulis oleh Associated Press – mengharapkan adanya terobosan agar jaringan ini bisa segera dinikmati secara luas oleh masyarakat.

Namun, ada yang lebih dahsyat. Selain internet2 yang menggunakan TCP konvensional dan mampu mengirimkan data hingga 350 megabit per detik, teknologi lain yang dikembangkan Institut Teknologi California (Caltech) menggunakan Fast TCP justru bisa mengirimkan data dengan kecepatan yang jauh lebih dahsyat, 8,5 gigabit per detik !

Memang, kehebatan koneksi Fast TCP yang dikembangkan sebuah tim dari Caltech di Pasadena itu terletak pada kemampuannya yang ramah dan universal; bisa jalan di infrastruktur internet yang ada sekarang ini.

Steven Low, bos Caltech, mengibaratkan cara kerja internet sekarang seperti menyetir mobil, dan orang yang menyetir hanya mampu melihat 10 meter ke depan. Ia hanya bisa menambah kecepatan mobil pelan-pelan, ketika sampai di tikungan atau atau ada halangan, dia harus mengerem mendadak. Syukur-syukur tidak sampai tabrakan. “Cara semacam itu hanya oke kalau kita menyetir mobil di kawasan parkir”, ujar Low seperti dikutip NewScientist.com.

Jika menyetir di jalan tol, ulasnya lagi, selain bisa melewati ruas jalan yang lebih lebar dan mulus, Anda tentu bisa melihat ke depan lebih jauh dan lebih bisa mengantisipasi rintangan atau tikungan yang muncul tiba-tiba. “Itulah yang kita lakukan dengan Fast TCP”.

Padahal, internet yang ada sekarang masih menggunakan TCP (Transmission Control Protocol) yang dibuat pada 1969 oleh sekelompok insinyur jaringan, yang menjadi cikal bakal protokol internet di kemudian hari.

Dengan menggunakan internet saat ini, berarti kita masih menyetir dan berputar-putar tak menentu di jalan yang ada di kawasan parkir. Memang sudah ada sejumlah upaya dilakukan untuk memperbaiki akses internet, tetapi baru sebatas perbaikan kapasitas akses (bandwidth) atau perangkat komputernya sendiri.

Masalah lambatnya akses dan pusingnya melakukan penyalinan data (download) pun masih terjadi. Sebab jika hanya kapasitas transfer data yang diperbesar, pastilah akan membutuhkan infrastuktur yang lebih kompleks. Jelas, hal itu sangat tidak mungkin dilakukan oleh semua negara karena perbedaan kondisi infrastruktur.

Namun, jika protokol transmisinya yang diperbaiki, semua orang di semua negara akan bisa menikmatinya. Itulah dasar pemikiran mengapa para ahli internet lebih berkonsentrasi pada perbaikan TCP. Memperbesar bandwidth hanyalah memperbesar bus yang akan ditumpangi tapi memperbaiki TCP akan memperluas jalan yang akan dilewati berbagai kendaraan.

Tak salah lagi, pengembangan TCP menjadi versi yang lebih maju ibarat membangun jalan tol bagi semua orang yang ingin mengakses internet. Mulai dari “bus, sedan, bajaj, hingga sepeda” pun bisa dan boleh lewat di sana.

Keandalan Fast TCP, jalan tol buat semua orang itu, pertama kali diuji coba akhir tahun 2002. Tim Caltech Stanford mencoba mengirimkan data sejauh 10 ribu kilometer dari Sunnyvale, California, dengan tingkat transmisi 925 megabit per detik. Sementara itu, dengan rute yang sama, TCP konvensional hanya mampu mengirimkan data 266 megabit per detik.

Dengan menjalankan 10 Fast TCP secara bersamaan , tim itu berhasil membukukan prestasi akses 8,6 gigabit per detik: berarti 6.000 kali dari kapasitas rata-rata koneksi yang ada sekarang.

Keduanya memang sangat menjanjikan. Namun, masih perlu ditunggu, mana yang lebih dulu efektif digunakan secara luas dan lugas: Internet2 ataukah Fast TCP ? Apa pun yang kemudian berhasil memikat hati masyarakat dunia, yang jelas revolusi internet memang terbilang cepat, bahkan jauh lebih cepat ketimbang yang pernah dibayangkan para penggagas dan pelopornya.

Sumber : Koran Tempo (2 September 2004)